Biografi Adamas Belva Syah Devara
Adamas Belva Syah Devara, M.P.A.,M.BA. lahir di Jakarta pada tanggal 30 Mei
1990, ia berumur 29tahun. Adamas Belva Syah Devara adalah seorang pengusaha
tokoh muda, dan aktivitis sosial. Ia terpilih sebagai salah satu 30 pengusaha
muda paling berpengaruh di Asi ole Forbes Magazine.
A. LATAR BELAKANG
AdamaS Belva Syah Devara bukanlah anak laki-laki yang lahir dari keluarga
berada dengan tingkat ekonomi tinggi, ia adalah anak pertama dari tiga
bersaudara.Orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Meski demikian,
kedua orang tuannya memiliki prinsip untuk memastikan selalu memberikan
pendidikan yang terbaik sejak kecil. Prinsip inilah yang akhirnya dipegang kuat
oleh Belva, sapaan akrabnya , bahwa semua anak berhak mendapatkan
pendidikan berkualitas dan sirealisasikan melalui Ruangguru.
Belva menempuh pendidikan menengah pertama di SMp Islam Al azhar 8, dan
pendidikan menengah atas di SMA Presiden, sebuah sekolah semi-militer bertrafaf
internasional. Ia sudah dikenal sejak dulu sebagai seseorang yang
cemerlang, dengan kecerdasan berada di atas tingkat rata-rata teman seusianya. Selama SMA, ia selalu meraih peringkat satu dan
menjuarai berbagai kompetisi olimpiade ilmiah, pidato, dan debat berbahasa
inggris. Berkat itu, ia diberikan beasiswa penuh dan tidak perlu mengeluarkan
uang sepeserpun untuk biaya pendidikan selama SMA. Ia pun dikenal aktif
berorganisasi, terpilih untuk menjabat sebagai Ketua OSIS di SMA Presiden.
Adamas Belva Syah Devara lulus dari Universitas Harvard, 2016.
Pada
tahun 2007, Belva terpilih menjadi salah satu dari delapan siswa Indonesia yang
mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Singapura untuk melanjutkan studinya
ke Nanyang Technological University, Singapura, salah satu
institut teknik terbaik di Asia. Program beasiswa ini adalah salah satu seleksi
akademis paling kompetitif di kala itu. Ia merupakan orang Indonesia pertama
yang diterima di program gelar ganda dalam program studi Ilmu komputer dan
Bisnis di Nanyang Technological University. Selama kuliah, Belva mendapatkan banyak prestasi
akademis dan berhasil masuk pada Double Dean's List sebagai
salah satu dari 5% mahasiswa dengan prestasi tertinggi, dalam program studi
Ilmu komputer maupun Bisnis. Pada tahun 2009, ia terpilih
oleh universitas untuk ikut serta dalam program pertukaran pelajar ke
University of Manchester, Manchester, Inggris.
Puncaknya
pada tahun 2011, Belva berhasil meraih tiga medali emas prestisius dari Nanyang Technological Universit , Lee Kuan Yew Gold Medal,
(penghargaan tertinggi bagi mahasiswa di universitas), Infocomm Development
Authority of Singapore Gold Medal (penghargaan bagi peraih nilai
akademis tertinggi di program studi Ilmu komputer), dan Accenture Gold
Medal (penghargaan bagi peraih nilai akademis tertinggi di program
studi Bisnis). Atas prestasinya, sembari kuliah, ia mendapatkan kesempatan
bekerja di perusahaan berpengaruh di Singapura, Goldman Sachs dan Accenture.
Selain prestasi akademis, Belva juga aktif dalam kegiatan organisasi. Ia
dipercaya untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pelajar Indonesia Singapura dan dinobatkan menjadi Young Leader
for Indonesia 2011 oleh McKinsey & Company.
Pada
tahun 2013, ia melanjutkan pendidikan pascasarjananya dan menjadi orang
Indonesia pertama yang diterima di program gelar ganda di Harvard
University, Cambridge, Massachusetts dan Stanford
University, Palo Alto, California sekaligus, dua universitas paling
bergengsi di dunia.[ Di Harvard
University ia mengambil jurusan Master of Public
Administration (Kebijakan Publik), sedangkan di Stanford University, ia mengambil jurusan Master of Business
Administration (Bisnis Manajemen).
Karena
berprestasi dalam bidang akademis, ia juga mendapatkan kesempatan terdaftar
sebagai mahasiswa tamu di Massachusetts Institute of Technology, yang juga
merupakan salah satu universitas terbaik di dunia. Belva juga tercatat
terdaftar silang (cross-registered) sebagai mahasiswa di fakultas lain
di Universitas Harvard, termasuk Harvard Law School, Harvard Medical
School, dan Harvard Graduate School of Education. Ia juga aktif menjadi
peneliti (Fellow) di Harvard Ash Center for Democratic Governance and
Innovation. Untuk program pascasarjana di Amerika Serikat ini, ia berhasil
mendapatkan beasiswa penuh dari Lembaga Pengelola dana Pendidikan, yang
dikelola oleh Kementerian Keuangan. Tidak hanya berprestasi akademis, ia pun
banyak dikenal sebagai salah satu alumni penerima beasiswa Lembaga
Pengelola dana Pendidikan yang telah berkontribusi untuk kemajuan tanah
air lewat kiprahnya di dunia teknologi pendidikan.
Membesarkan Ruangguru
Usai menyelesaikan semua studinya di Amerika Serikat, pada 2016 ia memutuskan untuk kembali ke tanah air demi fokus membesarkan Ruangguru yang sebelumnya telah dikelola oleh Iman Usman.
Kepulangannya ini juga sekaligus menandakan ia mengambil alih pimpinan Ruangguru. Dibawah komandonya, Ruangguru dengan segera berkembang pesat lima kali lipat.
Dari yang tadinya hanya platform pendidikan kecil menjadi startup teknologi edukasi terbesar di Indonesia, saat ini yang sudah menjangkau lebih dari 15 juta siswa di seluruh Indonesia dan 300.000 guru.
Layanan yang disediakan Ruangguru tidak hanya sebatas bimbel untuk pelajar SD-SMP-SMA, namun juga persiapan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan seleksi STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara).
Pertumbuhan Ruangguru sendiri dibandingkan bimbel online sejenis Quipper atau Zenius juga sangat pesat karena pemanfaatan aplikasi smartphone untuk proses belajar mengajar siswa.
Selain itu, siswa juga disediakan layanan belajar offline dan online, mengombinasikan belajar secara tatap muka dengan guru privat dan online melalui aplikasi.
Tidak mengherankan jika ia pernah diundang oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet terbatas di Istana Bogor, yang dihadiri 19 menteri untuk memberikan pandangan yang diperlukan dalam menghadapi perubahan teknologi yang sangat cepat di dunia pendidikan.
Lima tahun berjalan, Ruangguru sendiri sudah pernah mendapat kuncuran pendanaan seri B senilai US$7 miliar di tahun 2017 dari lembaga investasi Bank UOB dan pendanaan hibah dari program MIT Solve yang ditujukan untuk program Ruangguru Digital Bootcamp pada tahun 2018.
Juli lalu, Ruangguru merayakan ulang tahun yang ke-5 dengan puncak perayaan acara yang disiarkan serentak di 10 stasiun TV nasional. Acara tersebut berhasil mengantarkan Ruangguru trending di media sosial dan masuk dalam daftar popular search Google.
Sejauh ini, aplikasi Ruangguru menjadi aplikasi belajar terpopuler 2018 berdasarkan Google Play User’s Choice Award 2018 dan memperoleh rating tertinggi untuk aplikasi belajar di Indonesia, dengan rating 4.7/5.
Belva sendiri bersama Iman Usman mendapatkan penghargaan sebagai pemuda di bawah usia 30 tahun tersukses dalam bidang consumer technology versi majalah Forbes Asia. Selain itu, ada pula penghargaan 40 Under 40 The Vanguards 2018 dari majalah Prestige, ASEAN 40 Under 40 oleh ASEAN Advisory 2018, Atlassian Foundation MIT SOLVE Grantee 2017, Australian DFAT MIT SOLVE Grantee 2017, dan GSMA Innovation Fund Grantee 2017.
Dari Belva, kita bisa belajar bahwa untuk bisa mencapai kesuksesan, kita harus mampu mengatur waktu dengan baik dan memanfaatkan setiap kesempatan dan potensi yang ada.
Kesempatan belajar di luar negeri pun tidak hanya dimiliki oleh anak orang kaya raya. Dengan semakin beragamnya program beasiswa dan terbukanya akses informasi, tentu kita juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama, asalkan mau berusaha.
inilah Fakta-fakta tentang Belva:

Komentar
Posting Komentar